Sejumlah perusahaan di Indonesia, terutama dari sektor finansial, kini memang telah memiliki DRC, entah dengan membangun sendiri atau menyewa dari perusahaan provider. Sebagai contoh, BCA, yang malah memiliki dua DRC — salah satunya berlokasi di Singapura.

Namun, membangun DRC jelas tak murah. Investasinya bisa puluhan miliar rupiah. Belum termasuk biaya pemeliharaan dan sumber daya manusia. Sehingga, banyak perusahaan yang lebih memilih cara alih daya atau outsourcing. “Dari sisi biaya, lebih ekonomis, ujar seorang bos perusahaan multilevel marketing yang enggan disebut identitasnya.

Salah satu provider jasa penyewaan DRC yang cepat menangkap peluang ini adalah PT Sigma Cipta Caraka. “Sekarang semakin banyak perusahaan yang bergantung pada TI (teknologi informasi). Tetapi, kan tidak mesti membangun sendiri, melainkan outsourcing. Di luar (negeri) polanya juga ke situ, ujar Djarot Subiantoro, Presdir Sigma.

Untuk jasa DRC ini, pihak Sigma menawarkan tiga model layanan: Cold, Warm dan Hot. Ketiga jenis layanan yang ditawarkan itu disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan klien. Pasalnya, setiap perusahaan pasti akan menganalisis risiko sebelum menentukan pilihan. Untuk jasa layanan paling sederhana, Cold DRC, Sigma hanya menyediakan sarana, sementara software aplikasi dan data milik penyewa. Pada jenis Warm DRC, selain sarana, Sigma juga menyediakan penyewaan software aplikasi. Adapun jenis Hot DRC menyediakan semua fasilitas (termasuk SDM-nya) dan bersifat dedicated. “Perbedaan ketiga model itu bukan karena yang satu lebih bagus, tapi lebih pada pilihan sesuai dengan strategi perusahaan. Menghadapi bencana alam kan tergantung manajemen risikonya, Djarot menjelaskan.

Tentu saja, perbedaan jenis layanan tersebut juga berimplikasi pada perbedaan biaya dan tingkat layanan. Sayangnya, Djarot enggan menguraikan tarif masing-masing. “Susah menjawabnya, karena sangat bergantung pada service level, ujarnya berkilah. Namun, sebagai gambaran, tarif paket Hot bisa mencapai Rp 100-500 juta/bulan. Ia mengklaim, biaya tersebut sepadan dengan kualitas layanan yang diberikan, dan penyewa tidak dipusingkan lagi soal SDM dan biaya perawatan. Padahal, jika perusahaan mengembangkan DRC yang dedicated, ia mesti mempekerjakan 10-20 orang — yang kerjanya benar-benar diuji hanya ketika terjadi bencana. “Ketika Jakarta terendam banjir, sebuah perusahaan besar yang kini menjadi klien kami mesti menempatkan 50 orang untuk operasional. Itu kan tidak efisien, ungkapnya.

Jasa layanan DRC ini ditawarkan Sigma sejak beberapa tahun silam. Hal itu dipicu oleh semakin meningkatnya permintaan pasar. Saat ini ada 45 perusahaan yang menyewa fasilitas DRC milik Sigma. Mereka dari beragam industri, seperti jasa keuangan, otomotif, manufaktur, dan bidang lain yang yang pola kerjanya bersifat online dan real-time.

Salah satu pelanggan besar Sigma adalah PT Astra International. Dalam testimoninya, Ganda Kusuma, CIO Astra, menyebutkan bahwa kerja sama dengan Sigma merupakan bagian dari Business Continuity Plan Astra, karena harus bisa menjamin keamanan data 130 lebih anak usahanya.

Selain Sigma, masih ada provider lain yang menawarkan jasa sejenis, di antaranya IBM, HP, Sun Microsystem, CSM, Indosat dan Multipolar. Makin banyaknya pemain penyedia jasa DRC itu boleh jadi karena potensi pasarnya yang besar. “Ke depan perusahaan akan membutuhkan DRC. Dari pengalaman beroperasi selama ini, kami pernah melayani 9 kasus disaster, lima kasus di antaranya terjadi dalam dua tahun terakhir. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan hal itu terus meningkat, ungkap Djarot.

Namun, di sisi lain, persaingan ketat pun tak terelakkan. Toh, Djarot optimistis Sigma akan tetap sebagai pemimpin pasar. Sebab, menurutnya, Sigma memiliki kualitas layanan yang bagus, dan kepastian jaminan tingkat layanan ketika terjadi bencana. Untuk level Cold, klien dijamin hanya akan mengalami down time 8-10 jam, level Warm jaminan down time-nya 3-4 jam saja, dan untuk level Hot cuma empat menit.

Kapasitas pusat data Sigma untuk jasa DRC ini memang terbilang besar, karena bisa melayani hingga ratusan perusahaan skala menengah-atas. Dan, tahun ini Sigma juga telah merampungkan pengembangan pusat data baru di Surabaya. Karena itu, Djarot berani menargetkan, tahun depan bisnis jasa DRC-nya bisa tumbuh 20%, dan jumlah klien bertambah jadi 54 perusahaan. Selain itu, ia mengklaim, “Kami juga bekerja sama dengan hampir semua operator telekomunikasi, sehingga layanan DRC Sigma lebih lengkap, end to end.

A. Mohammad B.S.

Sumber : https://swa.co.id/swa/listed-articles/drc-bisnis-di-balik-ancaman-bencana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *